Sabtu, 28 Juni 2008

Cinta Deritanya Tiada Akhir


Adalah kisah terindah yang pasti pernah dimiliki setiap orang yang terlahir di dunia yang fana ini. Banyak orang, banyak cinta, banyak masalah yang selalu menimpa yang para pujangga cinta dikehidupan ini. Banyak hal yang berkaitan dengan binatang yang namanya cinta ini, dan keragaman spesiesnya juga sangat bervariasi, tapi yang ingin kita bahas untuk saat ini adalah kisah kasih percintaan yang sering diidentiknya dengan kata cinta ini, cinta terhadap pasangan.
“Anugrah Terindah Yang Pernah Dimiliki”, itu kata Sheila on Seven. Tapi memang rasa ketertarikan terhadap lawan jenis ini merupakan anugrah yang sangat indah. Karena anugrah ini peradaban kita masih tetap terus ada dan semakin menyesakkan dunia ini, melibas ekosistem binatang purba yang katanya telah dulu ada dibandingkan peradaban kita. Ketertarikan terhadap lawan jenis yang aku angkat karena aku masih menghargai agama dan terutama sangat-sangat menghargai keberadaan lawan jenis yang memang diciptakan untuk menjadi pasangan. Maaf bagi anda yang tertarik sesama jenis, bukan maksud hamba membatasi eksplorasi tapi hamba ini punya idealis sendiri dan begitu juga yang mungkin ada dalam benak anda.
Atas nama cinta yang penuh masalah inilah peradaban manusia di bumi ini dimulai, bagaimana Adam dan Hawa bisa turun kedunia ini, kemudian terpisah dan menemukan cintanya kembali, terus menerus diwariskan sampai akhirnya adanya kita saat ini. Bagaimana kulturasi genetik telah ditentang atas nama cinta oleh anak-anak mereka, juga adalah atas nama cinta. Jika ditinjau ulang cinta memang tak jauh dari masalah, yang jadi pertanyaan kenapa cinta itu ada jikalau dekat sekali dengan masalah-masalah yang mudah sekali ditimbulkannya ?
Banyak orang-orang purba berkata, “awal mula masalah hidup di dunia ini tak jauh dari tiga inti masalah utama, yang pertama makan dan minum, yang kedua buang air, dan yang ketiga bercinta”. Cinta yang kita tilik ini tak lebih dari dua otak dan dua hati saja. Mungkin serasa dunia milik berdua inilah maka memang yang lain ngontrak dan pada akhirnya yang bercinta ini yang tidak perduli dengan efek domino yang dihasilkan dari percintaan mereka. Love is Blind, banyak para pujangga cinta sering berkata.
Cinta katanya adalah hak asasi manusia. Jikalau sebagai hak asasi manusia sudah barang tentu begitu bebasnya dan indahnya cinta yang terbebas dari belenggu aturan dunia. Tapi kalau kebebasan ini disalahgunakan siapa yang akan bertanggung jawab ? “Manusia berubah dalam hitungan detik”, yang bercinta adalah manusia, jika manusia berubah sifat dalam hitungan detik berarti cinta juga berubah dalam hitungan detik. Pantas saja salah seorang rekanan yang mungkin sedang jenuh, hari ini ia merasa bahagia dengan pasangannya, tetapi keesokan harinya ketika dia curhat lagi cerita yang bertolak belakang yang diungkapkannya. Jadi apakah cinta sejati itu ada ? Atau manusia sejati itu ada ?
Mungkin itu sebabnya tercipta lagu “cintaku terbagi dua”, tapi jikalau terbagi sembilan, sepuluh, seratus, bagaimana...maniak....atau sakit.
Kembali hidup adalah pilihan, mungkin jika orang yang cintanya sering terbagi berarti manusia itu kreatif, karena dia terus menerus bereksplorasi untuk menemukan inovasi-inovasi baru. Ini positif atau negatif tinggal anda yang memilih dan memutuskan jalan mana yang anda pilih ?
Masalah cinta yang katanya pada awal adalah masalah kita dengan pasangan ternyata ada yang berakhir dengan masalah umum. Ini berarti ternyata cinta bukanlah masalah pribadi, tertapi ternyata adalah kepentingan umum juga. Jikalau begitu ini hak asasi manusia atau hak sosial hubungan antar manusia ?
Keinginan adalah sebuah perwujudan hak manusia yang memiliki akal. Karena keinginan inilah maka banyak sekali kepentingan pribadi terhadap masalah-masalah disekitar kita. Dari masalah percintaan saja ternyata bisa menjadi masalah politik. Mahadaya cinta, banyak hal yang bisa dibelokkan arahnya oleh binatang yang satu ini. Bagaimana skandal beberapa pemimpin menjadi bumerang untuk image dirinya dimuka umum, tapi jikalau masalah skandal, ini cinta atau hawa nafsu ?
Dari skandal cinta ini pula orang yang awalnya tidak tahu menahu tiba-tiba diajak untuk ikut terlibat. Cinta banyak segi begitu menghebohkan dunia persilatan percaturan politik. Dari sebuah perwujudan masalah pribadi dan keluarga mejadi perwujudan masalah tatanan pemerintahan. Tuntutan kebijakan pemimpin untuk penyelesaian pun turut menjadi sebuah permainan yang entah banyak tujuan apa dari banyak kepala yang datang. Mereka yang bercinta pada awalnya tidak pernah berpikiran akan menjadi perbincangan banyak orang disekitar mereka, itu mungkin karena mereka tidak tahu orang-orang di sekitar mereka ternyata punya banyak pemikiran lain yang tidak pernah mereka bayangkan. Mungkin ternyata ada orang lain yang juga menaruh hati dengan pasangan mereka, ada juga yang sebenarnya benci dengan pasangan mereka, dan ternyata ketika masalah itu muncul ada juga yang kemudian punya kepentingan walaupun sebenarnya itu bukan ditujukan kepada mereka, karena ternyata ditujukan kepada orang lain yang punya kepentingan untuk menyelesaikan masalah mereka.
Jikalau sudah menjadi masalah khalayak ramai bagi orang yang dituntut kebijakannya paling tidak penyelesaian yang paling masuk akal adalah DAMAI. Tapi memang tinggal bagaimana cara penyampaiannya agar semua hati orang-orang beringas itu bisa luluh untuk menerima semuanya agar masalah itu bisa selesai. Damai untuk semua orang memang terkadang menjadi momok besar dalam hati orang yang punya kepentingan didalam kasus tersebut. Apalagi kedua belah pihak merasa sudah sama-sama dirugikan, “tidak hanya yang bercinta ternyata orang-orang terdekat dari mereka yang bercinta juga merasa telah banyak dirugikan”.
Yang lebih parah apabila sudah menginjak pada tindak anarkis. Yang pada awalnya mereka enak-enakan tidur ternyata sekarang jadi susah tidur, orang yang tak tersangkut paut pada awalnya juga ternyata menjadi ikut-ikutan susah tidur. Jikalau sudah anarkis dan akan dipidanakan semua yang terlibat lalu berkata jikalau dirinya dan tindakannyalah yang paling benar. Kasus pemukulan jelas secara hukum pidana Indonesia yang merupakan hasil turunan hukum jaman kolonial adalah salah. Tapi mereka berdalih hal itu terjadi karena yang bercinta itu telah melakukan hubungan terlarang. Jikalau seperti itu kenapa Indonesia tidak menganut hukum Islam saja, atau pindahkan saja mereka semua ke Nangroe Aceh Darussalam yang sudah menerapkan nilai-nilai Islam.
Entah kenapa tehnik penyelesaian let it flow dan biar waktu yang menyelesaikan ternyata yang lebih sering berperan dalam penyelesaian masalah. Aneh memang, di satu sisi jelas seolah-olah hal itu tak pernah terselesaikan, tapi ternyata permasalahan yang tadinya sangat bergejolak itu jadi reda dengan sendirinya. Mungkin karena banyak orang yang terlibat baik itu yang punya masalah sampai dengan tersangkut paut masalah tersebut karena sesuatu dan lain hal, sebagai manusia biasa dan yang manusiawi selalu menempatkan diri pada “safety corner”. Tidak dipungkiri banyak provokator selalu saja berada di sisi ini mulai dari awal ketika mereka menimbulkan provokasi mereka kesemua orang sampai dengan semua proses permasalahan tersebut, tidak pernah yang namanya provokator dengan gagah berani berada dibarisan paling depan. Jadi, apakah itu permasalahan atau hanya sekedar angin puting beliung yang numpang lewat tapi banyak membuat pusing orang-orang yang terlibas dan yang tak tahu-menahu ?
Cinta atau politik ? Berpolitik atau bercinta ? Anda yang punya kepentingan pasti tahu dari sudut pandang mana permasalahan itu dan apa tujuan permasalahannya.