Sabtu, 28 Juni 2008

Manja dan Gratisan


Tak percuma sifat ini melekat pada setiap manusia yang hidup di muka bumi ini. Semua orang pasti senang dimanjakan oelh orang lain atau yang sekarang lebih sering digembar-gemborkan oleh manusia yaitu memanjakan diri sendiri. Walau yang terjadi sebenarnya tetap saja dengan bantuan orang lain.

Manusiawi memang, sifat ini ternyata tak pernah lepas dari setiap orang bahkan sekaliber orang yang kejam seperti Firaun, Hitler atau Sumanto sekalipun. Manja memang berujung pada kepuasan batin orang tersebut, demi kepuasan batin tersebutlah orang rela melakukan apa saja untuk memanjakan dirinya tersebut. Jadi manja disini ternyata membutuhkan orang lain sebagai fasilitator atau pendukung seseorang untuk memanjakan dirinya, minimal dari satu orang lain dan yang lebih besar lagi adalah dari organisasi sekaliber negara maupun dunia.

Orang pribumi, kelompok manusia-manusia manja yang bisa dengan jelas terlihat dari kacamata anak-anak. Dari jaman terciptanya negara ini, setiap personal di tanah tumpah darah ini tidak pernah melepaskan dirinya untuk terlepas dari kemanjaan. Nikmatnya manja memang telah teramat sangat memabukkan semua orang tanpa terkecuali yang menulis tulisan bodoh ini. Senang dilayani, pastilah menjadi cita-cita setiap orang dan bahkan yang paling menghebohkan yang pernah terlihat dari kaca mata orang sebodoh aku ini yaitu dilayani untuk ke kamar mandi. Siapa yang tidak mau ? Karena jelas tanpa dipungkiri orang bodoh ini ketagihan. Betapa enaknya kemanjaan dalam pelayanan yang pernah ada di dunia fana ini, sampai dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal atau bahkan sampai bertolak belakang dengan nilai etika dan moral dilakukan manusia untuk mendapatkan sebuah pelayanan yang memanjakan.

Entah mengapa ada banyak orang di negeri ini rela merendahkan pribadinya untuk mendapatkan pelayanan yang memanjakan. Apakah ada pengaruh efek sampingnya ? Tanya sendiri pada pribadi masing-masing kenikmatan apa yang anda dapatkan.

Kemajaan yang sangat sering terjadi dan memang sangat memabukkan mungkin adalah GRATISAN. Sekian lama minuman merek manja telah beredar dipasaran negara ini, mulai dari terciptanya bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai dengan beberapa kali perubahan sistem dan berakhir sekarang dengan beberapa kali perubahan amandemen semua berisi tentang cara-cara untuk memberikan kemanjaan umum dan memanjakan kehidupan bangsa. Gratisan yang dulunya sangat nikmat ternyata sekarang malah menjadi bumerang bagi pola prilaku rakyat negeri ini. Seolah tak berdaya untuk berdiri lagi ketika shock teraphy itu datang melanda, jangankan berdiri duduk pun tak mampu lagi, ya jikalau tidak mampu duduk yang dengan berbaring jikalau masih tidak mampu lagi ya lebih baik dalam hati saja.

Gratisan yang diberikan para pemimpin bangsa dari dulu mungkin saja karena kepentingan politisnya, biasalah semua orang dari orog sampai bangkotan juga tahu maksudnya. Maka dari itu sering-sering memanjakan orang adalah teori yang paling efektif untuk memberikan image baik pada diri. “Ih pacarmu itu baik ya, pagi-pagi mau mengantarkan Ibu ke pasar untuk belanja”, apa maksud dibalik itu cari tahulah sendiri untuk kepentingan kreatifitas anda untuk membangun image diri sendiri.

Sekarang gratisan terbesar dalam sejarah bangsa ini mulai dikurangi, rakyat kalut, banyak orang beranggapan ekonomi akan hancur, pengangguran bertambah karena PHK akan banyak terjadi untuk kompensasi dana kenaikan BBM. Lucunya, kemanjaan yang satu dihapuskan tetapi kemanjaan yang lain ditingkatkan. Jikalau memang dari analisis para pakar bisa membuktikan secara ril manfaatnya, maka itu lebih baik, tapi jikalau sistemnya saja masih mengambang dan meragukan untuk pelaksanaan yang sempurna, kita lihat saja kedepannya.

Seorang wakil pembicara dari PT. POS Indonesia gelagapan ketika ditanya Chantal Della Conceta, apa bapak yakin penyaluran dana bisa selesai serempak? Jawabannya tidak karena Indonesia begitu luas, banyak pulau, banyak daerah terpencil dan lain-lain, dan sebagainya. Kita butuh range waktu ditargetkan seminggu. Jikalau sistem berbicara butuh range waktu, maka akan sangat mungkin sistem juga akan berbicara ternyata sistem banyak yang bocor. Dan sistem akan banyak berbicara ternyata lapangan tidak seperti apa yang dibayangkan, yah...lima tahun memang waktu yang teramat singkat. Yang sakit pada akhirnya pelaksana lapangan yang berhadapan langsung dengan bala tentara musuh, tidak masuk dalam daftar gakin saja bisa memecahkan kaca kantor yang tidak tahu menahu dan dari dulu hanya bisa diam membisu.
Jadi salah siapa ? Salah sistem ? Atau pelaksana sistem yang tidak berkebesaran hati melaksanakan sistem karena sesuatu dan lain hal ?

Bicara tentang pelaksana sistem yang terjangkit flu burung, memang jika dilirik kembali jenis virusnya tak lain adalah virus manja. Demi mendapatkan kemanjaan apapun disikut, tidak lagi ada rasa iba yang dibesarkan adalah ketegaan terhadap orang. Tidak lagi menghargai dirinya sendiri dan rela masuk kejajaran orang-orang miskin Indonesia, kenapa tidak jadi ketua Kelompok Pengemis saja seperti dalam cerita kung fu, karena yang namanya ketua kelompok pengemis pakaiannya tidak seperti anggotanya, karena tetap saja mentereng. Yang naas jika tidak hati-hati dan faktor keberuntungan, orang yang dari awal selalu memberikan Pelayanan Prima menjadi terjerumus kedalam masalah, yang bisa jadi sangat besar baginya, bisa jadi periuknya tidak lagi pernah bisa nongkrong diatas perapian.

Pelayanan prima, karena tugas kenegaraan yang diemban dan dipercayakan oleh negara, bagi orang-orang yang benar-benar melaksanakannya dengan ikhlas, mungkin tidak akan memandang tingkat pendidikannya. Apalagi ada maksud lain dalam pelayanan primanya, siapa tahu ada kembang kelurahan yang baru ketahuan setelah turun kelapangan, atau sampai dengan sekedar untuk mengetahui jalan-jalan baru saja.

Budaya gratisan memang tidak dipungkiri sangat menghambat perkembangan Wawasan Kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Momok besar bagi para investor untuk menanamkan modal di tanah subur ini, siapa yang tidak takut, hanya melihat luarnya saja sudah menengadahkan tangan untuk mendapatkan uluran tangan, sehingga banyak investor takut menanamkan modal hanya karena hal yang sepele tersebut. Dan tidak dipungkiri ternyata hari besar Negara Kesatuan Republik Indonesia ini adalah salah satu momen yang mungkin dihindari para pengusaha ini.

Jadi apa anda punya gambaran tetang kapan waktunya bangsa ini dapat berdiri sendiri tanpa bantuan “tongkat kayu pemukul anjing” yang sungguh menyesatkan kemaslahatan bangsa, karena bangsa ini sudah ternyata sudah tidak layak lagi masuk dalam jajaran negara berkembang, negaramu adalah negara miskin yang tak jauh berbeda dengan pengemis. Mau dipandang sebelah mata hanya karena katehuan dari mana asalmu ?