Sabtu, 28 Juni 2008

Kepemimpinan Bagito


Banyak orang dan mungkin sebagian besar orang yang hidup di dunia yang fana ini ingin selalu berusaha agar hidupnya selalu berada dalam koridor tanpa masalah. Tapi apa mungkin kita menghindar dari masalah ? Bahkan mulai dari dilahirkan ke dunia ini kita semua serasa menolak untuk dilahirkan dengan menangis ketika menghirup udara dunia ini. Begitu banyak sekali masalah dan tantangan yang akan kita hadapi selama hidup ini. Dari pengalaman hidup, banyak sekali sifat hamba-hamba sahaya sang pencipta ini yang terkadang menjadi momok besar dalam perjalanan menyusuri sedikit waktu yang tersisa. Sering sekali doa sapu jagad dimohonkan, tetapi memang cobaan itu selalu saja datang. Tenang saja cobaan itu tidak akan lebih berat dari tingkat kemampuan kita semua, itulah yang sering dipikirkan olehku walaupun tidak dipungkiri sering sekali aku merasa lelah dan menyerah, ketika dalam kebuntuan berfikir.

Lari dari masalah kata sebagian besar orang yang dibilang orang besar dunia ini tidak akan menyelesaikan masalah, tapi entah kenapa perang gerilya sering sekali memenangkan pertempuran. Dilema, dan hanyalah dilema yang sering hidup dalam keseharian aktivitas kita. Mungkin positif ketika dilema itu datang, ketika kita berada dipersimpangan, hidup adalah pilihan. Eksplorasi pemecahan masalah dipersimpangan jalan menunjukkan kepada diri kita sendiri sampai dimanakah tingkatan kreatifitas pemikiran kita berada, ibarat icon iklan rokok Lucky Strike, “Think fast”. Kebanyakan masalah yang timbul itu selalu menuntut penyelesaian yang secepatnya, bahkan tidak jarang masalah “surat pegangan hidup” yang banyak dianggap hal sepele bagi penuntut menjadi hal yang sangat melelahkan bagi sang pengurus. Rocker juga manusia, kita semua dengan berbagai latar belakang kita adalah juga manusia, punya rasa punya hati, yang penuh dengan rasa lelah dan semua orang tahu kelelahan salah satu cikal bakal dari kekhilafan, jadi jangan samakan dengan pisau belati, itu kata group band seurius, sekarang bagaimana dengan pendapat anda yang merasa hidup ini ? Apakah anda ingin hidup lebih hidup ? Tanyakan saja caranya dengan L.A. Light, karena katanya bikin hidup lebih hidup.

Bicara tentang bikin hidup lebih hidup, banyak orang menginginkan suasana kerjanya lebih hidup, lebih cerah, lebih meriah, lebih, lebih dan lebih. Interaksi antar individu dalam aktivitas sehari-hari ada yang pandai bikin hidup tapi banyak juga yang belum apa-apa sudah menciptakan suasana ritual pemakaman. “Bawahan Atasan Giat Tertawain Orang”, sekilas terasa negatif pengertian ini tetapi dalam banyak hal jikalu kita mau mengkaji ulang dan hanya mengambil postifnya, banyak sekali pencerahan yang kita dapatkan. Tertawa, dalam kalangan kasta yang sama kita lebih gampang membuat orang lebih hidup, tetapi dalam kondisi perbedaan kasta yang amat mencolok, keadaan yang lebih mudah dibuat adalah suasana pemakaman.

Miss You Were Here, katanya Incubus, tidak banyak orang yang bisa membuat suasana jadi lebih hidup, diriku juga masih dalam proses pembelajaran untuk bisa sedemikian menariknya dalam berkomunikasi. Komunikasi yang efektif, banyak orang sering membicarakannya, barang langka apakah ini ? Dalam pemikiranku lebih kepada bagaimana semua opini kita bisa dengan mudah diterima dan dimengerti oleh musuh bicara kita, dan pada akhirnya feed back dengan mudah kita dapatkan. Kasta rendahan tentu sangat merindukan bisa bereksplorasi pemikiran dengan kasta petinggi. Dengan adanya fleksibilitas dari tipe-tipe orang idaman ini tentu akan sangat mudah sekali bermunculan ide gila dan pemikiran edan, yang tentu sangat berbeda sekali dengan ritual pemakaman yang tata caranya sudah sangat sedemikian kakunya dari jaman dahulu kala sampai dengan sekarang ketika aku masih hidup hanya itu-itu saja.

Seperti slogan majalah Opini, “iihh..papa nakal sukanya yang nakal-nakal”. Pemaksaan icon majalah ini sedemikian terlihatnya didalam iklan visualnya, positif, memang itulah nilai jualnya. Dari kenakalannya Isaac Newton ternyata sangatlah bermanfaat pada akhirnya bagi manusia didunia ini. Betapa tidak nakalnya dengan keisengannya bermain kawat filamen menjadikan dunia lebih terang. Ada celoteh, Tuhan adalah sumber cahaya kehidupan dunia, Isaac Newton adalah sumber kehidupan cahaya dunia. Jikalau tidak adanya jiwa nakal dalam diri manusia ini mungkin manusia dari dulu sampai sekarang masih hidup berburu, tanpa baju, dan berbulu, karena volume otak manusia dari jaman homo sapiens sampai dengan sekarang tetap sama.

Kasta brahma yang nakal dan penuh dengan segudang canda tawa mungkin akan lebih mudah merangkul kasta sudra, dan tidak bisa dipungkiri banyak juga ide besar, orang besar, pada awal berasal dari kasta sudra. Jikalau sang brahma jeli, tentu saja beliau dapat menyerap banyak masukan yang bisa jadi sangat berguna bagi kariernya dihadapan-Nya. Ketakutan akan kehilangan wibawa rasanya sangatlah picik jika berpikiran jika terlalu dekat dengan kasta rendahan, karena kewibawaan muncul dari penilaian dalam diri orang lain, tidak bisa dipaksakan, dan jika dipaksakan yang terlihat hanyalah kebodohan, kebodohan dan kebodohan. Pada akhirnya tertawaanlah feed back yang didapat. Pernah sebuah cerita datang, entah itu adalah keluhan, pengalaman, ataupun sindiran bagi yang merasa, “adalah si Fulis yang merasa sedang duduk di tahta Brahma, dihadapan para Brahma lainnya dia senang sekali memarahi para Sudrinya untuk menunjukkan kewibawaannya. Tidak perduli para sudri itu memang salah ataupun tidak, dan di balikpapan dia memberikan sedekah kepada Sudri yang dimarahinya atas marahannya tadi. Disatu sisi banyak para sudri sengaja membuat kesalahan untuk mengambil keuntungan pribadi, tapi dari semua para Sudri itu ada yang idealis. Dia merasa terhina sekali dimarahi untuk membetulkan pekerjaannya yang sudah betul, setelah tamu brahma itu pulang disodorkannya pekerjaannya yang sama sekali tidak dirubahnya itu, hal aneh yang terjadi, langsung disetujui. Sudri yang idealis inipun berkata, “pada awalnya, walaupun sifat Fulis ini memang begitu, Sudri ini masih memiliki rasa hormat, tapi karena sakit hati yang mendalam karena harga dirinya hanya dihargai dengan materi senilai air hitam, rasa hormat Sudri idealis ini tak lebih pada hormatnya kepada Sudri dari kasta yang amat dekil”.

“Gimanalah bang.....” jikalau kita terlalu membingkai kepemimpinan dalam sesuatu yang diagung-agungkan. Makanya kenapa mau NKRI dibentuk, coba masih terpecah-pecah dalam bentuk kerajaan-kerajaan kecil mungkin orang yang suka diagung-agungkan cocok duduk ditahta tersebut. Ibarat abdi dalem di kraton Kasultanan Jogjakarta kata dr. Sandy, pemimpin dan orang-orang yang terpaut dalam organisasi kepemimpinan negeri ini sebenarnya adalah seperti itu. Ternyata Kasta Brahma negeri ini tak lain harusnya merupakan kasta sudra, tidak seperti fenomena yang ada sekarang ini. Jadi memang sang Brahma-brahma ini harus sadar diri dulu, siapa dia, darimana dia, dan apa gunanya dia ada.