
Suatu daerah di ujung Singkawang Utara, yang untuk ukuran orang baru di Singkawang memang tempat ini terasa amatlah jauh. Dengan sebuah system tata pemerintahan baru di wilayah Singkawang yang terwujud sebuah kota daerah yang dulunya desa ini dipaksa untuk berubah menjadi sebuah kawasan urban. Positif, tapi entah kenapa banyak masyarakat yang agak menentang sebuah perubahan, harusnya jikalau kita menyebut perubahan yang lebih baik adalah perubahan ke tingkat yang lebih tinggi.
Di satu sisi masyarakat di Setapuk Besar ini sudah condong berorientasi pada kegilaan orang-orang kota, dengan berani mencoba untuk bergerak untuk menuntut pelayanan yang maksimal. Dilema, ketika orang yang “baru” ingin ikut terjun dalam sebuah kancah pembangunan kota Singkawang, malah terjadi banyak sekali pertentangan-pertentangan ide, baik itu yang memang benar-benar ide yang sama-sama positif maupun ide yang malah menjerumuskan kembali masyarakat ke dalam jurang yang pernah mereka masuki dimasa yang lalu.
Perubahan sistem pemerintahan dari desa menjadi kelurahan, ternyata membawa dampak sebuah “shock therapy” bagi para pemimpin-pemimpin masa lalu. Mereka seolah kehilangan power mereka untuk memberikan kontribusi pemikirannya kepada daerahnya. Karena mereka kebanyakan tidak memakai baju yang sama dengan sistem yang baru ini. Negatif, apakah harus, ketika kita ingin membentuk sebuah perubahan kita harus berada di atas. Goncangan-goncangan dari bawahpun mungkin akan lebih terasa ketika berada dalam tatanan pelaksanaan bukan hanya dalam tatanan konsep saja.
Kembali kepada kata Setapuk Besar, sesuai dengan namanya saja harusnya daerah ini mempunyai wilayah yang sangat luas. Dan memang terbukti ketika masuk ke dalamnya, daerah ini memang sangatlah luas, 28 buah blok kemasyarakatan ada di sini. Sebagai sebuah masyarakat yang dulunya berbentuk desa, pada umumnya bisa ditebak sektor yang digarap oleh mereka. Pertanian, yah memang sebagian besar mereka mengandalkan tanah tuhan untuk menghidupi organisasi kecilnya. Komoditi yang selalu disebut-sebut sebagai asal Tebas, ternyata sangat banyak juga berada di daerah ini, tetapi lucunya sesampainya di pasar tetap saja tidak berani menunjukkan bahwa tidak perlu jauh-jauh untuk mencari jeruk, cukup di Setapuk jeruk yang rasanya manis juga ada. Tapi masih untung, ternyata rambutan di Singkawang masih dilambangkan dengan Setapuk. Kenapa tidak berani menunjukkan “icon” jati diri sebuah barang, jeruk di pontianak selalu dibilang berasal dari Tebas, jeruk di luar Kalimantan Barat selalu di bilang jeruk Pontianak, padahal mana ada di kota Pontianak kebun jeruk.
Perlu kita anggap ini sebagai sebuah pembodohan diri, kemana keberanian kita untuk berinovasi, tapi memang bangsa Indonesia adalah pencontoh yang ulung. Jikalau mau mencari peniru unggul disinilah tempatnya. Mulai dari peniruan produk, sistem sampai pada tatanan konsep dan ide. Tulisan Gede Prama pernah meninju mukaku karena ternyata sama saja, inovasiku dalam dunia yang digeluti olehku banyak sekali pada akhirnya dibelokkan oleh kekuatan-kekuatan pengambil keputusan. Idealisme misi dan icon diriku menjadi tersimpan dalam lemari besi oleh karena melayani para pelanggan yang terlalu kental akan “maunya saya begini”, dan ketika aku memunculkan sebuah ide baru jawabannya “kok begitu” karena yang namanya ide baru ya memang tidak umum, kalo umum itu namanya ide usang dan kembalilah membantu mempertahankan citra bangsa ini.
Sebagian lagi memanfaatkan posisi wilayah yang ternyata mencium bibir pantai, pelestari-pelestari kisah nenek moyang ini tetap menjaga warisan budaya pelaut ulung. Walaupun masih kalah jauh dari para nelayan-nelayan Thailand yang ternyata mampu berlayar untuk menangkap hasil laut. Mungkin karena itulah bangsa kita ini disebut sebagai pelaut ulung, dengan teknologi yang sangat tepat guna, yang ketika terkena angin kencang sedikit lebih baik tidur di rumah, sampai dengan ahli nujum yang bisa memprediksikan dimana para penghuni-penghuni laut ini berkumpul.
Bukan salah siapa-siapa, memang begitulah Indonesia dengan ke-Bhineka Tunggal Ika-nya. Tuntutan-tuntutan, dan hanya tuntutan kepedulian dari pemimpin selalu digembar-gemborkan mereka, tolong peduli, tolong bantu, hal-hal seperti ini yang mematikan inovasi untuk menciptakan sebuah perubahan yang lebih baik. Anak mami, memang hal ini tidak bisa terlepas dari diri semua orang termasuk yang menulis tulisan aneh ini, tapi apakah salah kalau kita mati-matian menciptakan hal yang kecil saja, tetapi banyak, untuk menjadi cikal bakal perubahan. Aku juga sempat marah dalam diri ketika dikritik seorang teman karena terlalu banyak mempelajari software, “kamu ini hangat-hangat tahi ayam, tidak ada yang dikonsentrasikan semua mau dipelajari tapi tidak ada yang sampai maksimal”, tapi jawaban ketus dalam diri “ya biarin aja memang suka mempelajari hal-hal yang baru kok, karena misinya jika sudah tau sedikitkan, jadinya tidak mudah dibodoh-bodohi orang”. Itu kalau diriku, jikalau anda masih mengikuti aku ataupun temanku, sama saja anda mematikan jiwa inovasi anda. Hal yang lumayan dari bangsa ini yaitu akhirnya salah satu “ahli nujum” bangsa ini bisa hidup di Jerman dengan indahnya, sempat merasa kesal juga dengan beliau kenapa lari dari lingkungan orang-orang yang “kepintaran” ini, kenapa tidak membangunkan orang-orang seperti diriku di kampung halaman yang dalam sehari semalam isinya hanya tidur, tidur dan tidur lagi.
Kembali kepada tanah Setapuk Besar, flash back sedikit ketika pertama menginjakkan kaki ke wilayah ini, sedikit terkejut saya ketika memasuki kantor kelurahannya saja. Penampakan luarnya sih lumayan tetapi ketika melewati pintu utama, yang menjadi pertanyaan saya kenapa orang-orang sebelum diriku bisa bekerja dengan baik, dengan kondisi yang sangat-sangat memprihatinkan. Apakah memang begini citra yang harus muncul pada bangunan-bangunan pemerintahan ? Apakah memang sengaja dibentuk untuk menutupi mata masyarakat agar tidak berprasangka buruk terhadap pemerintahan ? Kenapa sih tidak ada usaha perawatan yang lebih baik ? Kenapa barang bagus yang diciptakan hanya bertahan tahun hitungan jempol ?
Aku tidak menjebak anda dalam idealisme institusi, tetapi lebih kepada memunculkan jiwa seni dan jiwa keindahan untuk kenyamanan psikologis semua orang. Karena mayoritas di Setapuk Besar adalah orang beragama, bukankah di dalam ajaran agama diajarkan tentang rasa keindahan dan kebersihan. Kepedulian yang digugah disini, jikalau berfikiran “ah biarin aja, biar cepat diganti dengan yang baru, karena kalau belum rusak tidak akan diperhatikan oleh para pemimpin”. Inilah dilema yang terjadi pada property milik pemerintahan, tidak ada rasa tanggung jawab karena tidak adanya sangsi atau aturan atau imbas balik yang bisa menyadarkan pribadi-pribadi ini. Positif juga metode kantor-kantor swasta yang berlomba-lomba membuat tempat usaha menjadi lebih representatif, tapi sebelumnya yang menjadi pertanyaan dalam diri adalah, Apakah kita orang pemerintahan mau begitu juga ? Karena bagus tidaknya tempat kerja toh gaji ya begitu-begitu juga. Kalau anda berpendapat begini, dirasa perlu pada penerimaan pegawai selanjutnya dimasukkan pada point yang pertama item “bersedia ditempatkan dimana saja”.
Daerah ini masih sangat kaya dengan hasil alamnya, bahan-bahan yang murah malah bahkan mungkin tidak perlu membayar terdapat di sini. Yang jadi pertanyaan adalah, apakah manusia masih menganggap bahan yang bagus itu adalah bahan yang mahal, yang umum dipakai orang, yang gampang didapati di pasaran ? Kenapa tidak mau sedikit menyiasati dari kesulitan materil untuk mendapatkan bahan-bahan seperti pertanyaan sebelumnya, dengan memandang, apa sih yang kita punya ?
Kemauan, mungkin hanya kemauan untuk berkreasi saja dan bisa jadi mungkin sedikit izin, dan kembali izin untuk bergerak dari yang kuasa yang menentukan. Apakah perasaan tabu untuk berkreasi tanpa izin yang kuasa itu akan terus kita bina dalam sanubari kita ? Dan mungkin memang harusnya yang kuasa itu haruslah juga yang maha melihat lagi maha mendengar, maha pemurah dan maha penyayang, maha adil dan maha bijaksana, dan pada akhirnya maha dari semua maha.
