Sabtu, 28 Juni 2008

Bicara Aku


Ketika aku hadir kedunia, katanya ruh-ku ditupkan kedalam gumpalan darah yang kemudian menjadi aku seutuhnya. Tetapi kenapa aku menangis ketika aku dilahirkan kedunia ini, padahal fasilitas di dunia tidak pernah ada dalam rahim ibuku, padahal teman-teman didunia lebih banyak dari pada temanku didalam rahim. Aku kehilangan ingatanku ketika aku belum menjiwai raga ini, tentang keinginanku apakah aku benar-benar ingin terlahir didunia.

Akhir-akhir ini aku sadar kenapa aku menangis ketika aku dilahirkan. Ternyata kehidupankn di dunia ini tidaklah indah, tidaklah enak, tidaklah tentram, tidaklah damai. Ternyata fasilitas dan segala yang ada di dunia ini terkadang membuatku muak. Muak kenapa harus ada dunia yang dapat menjerumuskanku di akhirat nanti, muak kenapa tidak langsung akhirat saja, muak dan muak akan ketidak sehatan hidup di dunia.
Apakaah aku sedang dicoba oleh pencipta dunia ini ??!!??!
Apakah aku terjebak dalam kemelut dan problema di dunia ini ?!!!??
Apakah aku pantas berada di dunia yang indah ini ??!!!???!
Dunia ini indah, sehingga terlalu banyak yang cinta dengan dunia ini. Semua hal di lakukan untuk mendapatkan keindahan dunia ini. Semua cara dan metode dilaksanakan untuk bisa merasakan nikmat dan indahnya dunia ini. Tetapi kenapa aku menangis ?!!!???! Semua cara ??!!?! Semua hal ??!!! Apakah ini perang ???!!! Apakah ini perjuangan ??!!!??? Akan datangkah perdamaian untuk duniaku ??!!!!?? Akankah merdeka seperti hari ini pada saat kemerdekaan Indonesia ??!!!?

Aku tidak pernah tahu kenapa aku tercebur kedalam dunia ini, bahkan pada hari ini banyak sekali kemurtadan dilakukan, dan sampai saat ini kemunafikan masih membelenggu duniaku. Hari bersejarah bangsaku ini, di umur yang setua ini, yang sudah memasuki masa pensiun yang sudah lama bagi abdi negara ini, aku....dan banyak mungkin dari semua gentayangan pasti merasakan kekecewaan akan kemerdekaan negeri ini.

Tahun ini dimana aku masih menghirup nikmat dunia yang katanya sedang memperingati hari kemerdekaan ternyata gentayangan muda ambon berperang tepat di acara penghormatan pembela murni, tak kala pelik wakil rakyat yang selalu berkata mewakili rakyat kecil ternyata malu dan merasa terhina karena protokoler salah meletakkan posisi tempat duduk pada jajaran sudra, patih ternyata juga merasa terhina duduk bersama dengan prajurit.

Apa ini...??!! Apa ini wujud penghormatan bangsa ??!! Apa ini yang namanya merdeka ??!! Tidak bolehkah sudra duduk bersama dengan brahma ?!? Tidak bolehkah fakir makan satu nampan dengan juragan ??!!? Dan haruskah aku menepi mendahulukan rombongan kereta kencana para petinggi yang digaji dan sama digaji oleh rakyatnya dan aku ketika sebagai rakyat ??!!!?

Pada hari ini yang digemborkan adalah kisah pejuang. Pejuang selalu identik dengan bala tentara, identik dengan angkatan yang diberi senjata. Dalam lukisan massa, setiap slide, setiap frame, setiap gambaran, dan setiap lembaran bercerita tentang perjuangan, baku hantam, tembak menembak, pukul memukul, bunuh membunuh, dan gempur menggempur. Aku berbicara aku munafik dan semua yang disebutkan sebelumnya akan menjadi penyakit munafik.
Entah yang kurasakan kehidupan tanpa kemunafikan saat ini ibarat hidup tanpa makan, dan memang kemunafikan manusia saat ini karena untuk mencari makan. Janji, sekedar janji, dan janji lagi. Sehingga apabila aku jadi gubernur aku akan memperjuangkan pendidikan dan kesehatan gratis, apabila aku jadi walikota aku akan mengusahakan agar kota kecilku menjadi kota dengan segala lini usaha jasa, basis sektor pertanian propinsi, dan dengan keindahan alam kota kecilku, aku akan menjadikannya kota para dewa dan dewi. Aku akan memperjuangkan.......aku akan mengusahakan......kata-kata bangsat dan penuh dengan intrik. Yah begitulah janji-janji merpati, setia-setia dusta, semalam dipasangkan dengan yang lain, esok telah jatuh cinta dengan yang lain. Jika ditanya kenapa hasil perjuangannya tidak berhasil ? Aku akan menjawab aku sudah memperjuangkan semuanya tetapi ternyata konsekuensi dari kebijakanku begitu rumit, sehingga komitmen awalku dipending dulu sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Apa hasil usahaku ? Aku akan menjawab, sekuat tenaga aku membangun sesuai dengan cita-cita khayalku, tetapi ketika khayalan itu hendak dicapai ternyata banyak sekali terjadi benturan-benturan yang tidak mendukungku, sehingga waktuku yang terbatas terasa teramat sempit, jadi tampaknya aku butuh tambahan waktu yang artinya pilihlah aku kembali untuk melanjutkan kemunafikanku.

Aku..........egoku..........sifatku.........
Aku adalah orang yang sangat licik, sehingga semua pikiranku sangat picik, aku tak perduli walau semua orang di dunia ini tercabik-cabik, aku hanya tahu kalau sifatkulah yang paling sok baik.

Di atas langit masih ada langit...pepatah nenek moyangku. Aku anggap itu pepatah paling kuno, jikalau berbicara aku pepatahku akan berkata....akan kuruntuhkan langit-langit itu, karena aku tidak suka apa bila ada yang derajatnya lebih tinggi dariku......

Enak saja orang-orang itu menginjakku apa bila dia masih berada diatasku, enak juga mereka meludahiku. Aku tidak akan pernah suka hal yang seperti itu, harusnya akulah yang menginjak-injak mereka, dan harusnya kau pulalah yang meludahi mereka. Aku akan menjadi orang yang paling bahagia apabila orang bersorak-sorai, aku akan menjadi orang yang paling bahagia apabila orang-orang tertawa ria, karena akulah yang lebih dulu menyoraki ketololan mereka, karena akulah yang lebih dulu mentertawai kebodohan mereka.

Manja dan Gratisan


Tak percuma sifat ini melekat pada setiap manusia yang hidup di muka bumi ini. Semua orang pasti senang dimanjakan oelh orang lain atau yang sekarang lebih sering digembar-gemborkan oleh manusia yaitu memanjakan diri sendiri. Walau yang terjadi sebenarnya tetap saja dengan bantuan orang lain.

Manusiawi memang, sifat ini ternyata tak pernah lepas dari setiap orang bahkan sekaliber orang yang kejam seperti Firaun, Hitler atau Sumanto sekalipun. Manja memang berujung pada kepuasan batin orang tersebut, demi kepuasan batin tersebutlah orang rela melakukan apa saja untuk memanjakan dirinya tersebut. Jadi manja disini ternyata membutuhkan orang lain sebagai fasilitator atau pendukung seseorang untuk memanjakan dirinya, minimal dari satu orang lain dan yang lebih besar lagi adalah dari organisasi sekaliber negara maupun dunia.

Orang pribumi, kelompok manusia-manusia manja yang bisa dengan jelas terlihat dari kacamata anak-anak. Dari jaman terciptanya negara ini, setiap personal di tanah tumpah darah ini tidak pernah melepaskan dirinya untuk terlepas dari kemanjaan. Nikmatnya manja memang telah teramat sangat memabukkan semua orang tanpa terkecuali yang menulis tulisan bodoh ini. Senang dilayani, pastilah menjadi cita-cita setiap orang dan bahkan yang paling menghebohkan yang pernah terlihat dari kaca mata orang sebodoh aku ini yaitu dilayani untuk ke kamar mandi. Siapa yang tidak mau ? Karena jelas tanpa dipungkiri orang bodoh ini ketagihan. Betapa enaknya kemanjaan dalam pelayanan yang pernah ada di dunia fana ini, sampai dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal atau bahkan sampai bertolak belakang dengan nilai etika dan moral dilakukan manusia untuk mendapatkan sebuah pelayanan yang memanjakan.

Entah mengapa ada banyak orang di negeri ini rela merendahkan pribadinya untuk mendapatkan pelayanan yang memanjakan. Apakah ada pengaruh efek sampingnya ? Tanya sendiri pada pribadi masing-masing kenikmatan apa yang anda dapatkan.

Kemajaan yang sangat sering terjadi dan memang sangat memabukkan mungkin adalah GRATISAN. Sekian lama minuman merek manja telah beredar dipasaran negara ini, mulai dari terciptanya bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai dengan beberapa kali perubahan sistem dan berakhir sekarang dengan beberapa kali perubahan amandemen semua berisi tentang cara-cara untuk memberikan kemanjaan umum dan memanjakan kehidupan bangsa. Gratisan yang dulunya sangat nikmat ternyata sekarang malah menjadi bumerang bagi pola prilaku rakyat negeri ini. Seolah tak berdaya untuk berdiri lagi ketika shock teraphy itu datang melanda, jangankan berdiri duduk pun tak mampu lagi, ya jikalau tidak mampu duduk yang dengan berbaring jikalau masih tidak mampu lagi ya lebih baik dalam hati saja.

Gratisan yang diberikan para pemimpin bangsa dari dulu mungkin saja karena kepentingan politisnya, biasalah semua orang dari orog sampai bangkotan juga tahu maksudnya. Maka dari itu sering-sering memanjakan orang adalah teori yang paling efektif untuk memberikan image baik pada diri. “Ih pacarmu itu baik ya, pagi-pagi mau mengantarkan Ibu ke pasar untuk belanja”, apa maksud dibalik itu cari tahulah sendiri untuk kepentingan kreatifitas anda untuk membangun image diri sendiri.

Sekarang gratisan terbesar dalam sejarah bangsa ini mulai dikurangi, rakyat kalut, banyak orang beranggapan ekonomi akan hancur, pengangguran bertambah karena PHK akan banyak terjadi untuk kompensasi dana kenaikan BBM. Lucunya, kemanjaan yang satu dihapuskan tetapi kemanjaan yang lain ditingkatkan. Jikalau memang dari analisis para pakar bisa membuktikan secara ril manfaatnya, maka itu lebih baik, tapi jikalau sistemnya saja masih mengambang dan meragukan untuk pelaksanaan yang sempurna, kita lihat saja kedepannya.

Seorang wakil pembicara dari PT. POS Indonesia gelagapan ketika ditanya Chantal Della Conceta, apa bapak yakin penyaluran dana bisa selesai serempak? Jawabannya tidak karena Indonesia begitu luas, banyak pulau, banyak daerah terpencil dan lain-lain, dan sebagainya. Kita butuh range waktu ditargetkan seminggu. Jikalau sistem berbicara butuh range waktu, maka akan sangat mungkin sistem juga akan berbicara ternyata sistem banyak yang bocor. Dan sistem akan banyak berbicara ternyata lapangan tidak seperti apa yang dibayangkan, yah...lima tahun memang waktu yang teramat singkat. Yang sakit pada akhirnya pelaksana lapangan yang berhadapan langsung dengan bala tentara musuh, tidak masuk dalam daftar gakin saja bisa memecahkan kaca kantor yang tidak tahu menahu dan dari dulu hanya bisa diam membisu.
Jadi salah siapa ? Salah sistem ? Atau pelaksana sistem yang tidak berkebesaran hati melaksanakan sistem karena sesuatu dan lain hal ?

Bicara tentang pelaksana sistem yang terjangkit flu burung, memang jika dilirik kembali jenis virusnya tak lain adalah virus manja. Demi mendapatkan kemanjaan apapun disikut, tidak lagi ada rasa iba yang dibesarkan adalah ketegaan terhadap orang. Tidak lagi menghargai dirinya sendiri dan rela masuk kejajaran orang-orang miskin Indonesia, kenapa tidak jadi ketua Kelompok Pengemis saja seperti dalam cerita kung fu, karena yang namanya ketua kelompok pengemis pakaiannya tidak seperti anggotanya, karena tetap saja mentereng. Yang naas jika tidak hati-hati dan faktor keberuntungan, orang yang dari awal selalu memberikan Pelayanan Prima menjadi terjerumus kedalam masalah, yang bisa jadi sangat besar baginya, bisa jadi periuknya tidak lagi pernah bisa nongkrong diatas perapian.

Pelayanan prima, karena tugas kenegaraan yang diemban dan dipercayakan oleh negara, bagi orang-orang yang benar-benar melaksanakannya dengan ikhlas, mungkin tidak akan memandang tingkat pendidikannya. Apalagi ada maksud lain dalam pelayanan primanya, siapa tahu ada kembang kelurahan yang baru ketahuan setelah turun kelapangan, atau sampai dengan sekedar untuk mengetahui jalan-jalan baru saja.

Budaya gratisan memang tidak dipungkiri sangat menghambat perkembangan Wawasan Kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Momok besar bagi para investor untuk menanamkan modal di tanah subur ini, siapa yang tidak takut, hanya melihat luarnya saja sudah menengadahkan tangan untuk mendapatkan uluran tangan, sehingga banyak investor takut menanamkan modal hanya karena hal yang sepele tersebut. Dan tidak dipungkiri ternyata hari besar Negara Kesatuan Republik Indonesia ini adalah salah satu momen yang mungkin dihindari para pengusaha ini.

Jadi apa anda punya gambaran tetang kapan waktunya bangsa ini dapat berdiri sendiri tanpa bantuan “tongkat kayu pemukul anjing” yang sungguh menyesatkan kemaslahatan bangsa, karena bangsa ini sudah ternyata sudah tidak layak lagi masuk dalam jajaran negara berkembang, negaramu adalah negara miskin yang tak jauh berbeda dengan pengemis. Mau dipandang sebelah mata hanya karena katehuan dari mana asalmu ?

Cinta Deritanya Tiada Akhir


Adalah kisah terindah yang pasti pernah dimiliki setiap orang yang terlahir di dunia yang fana ini. Banyak orang, banyak cinta, banyak masalah yang selalu menimpa yang para pujangga cinta dikehidupan ini. Banyak hal yang berkaitan dengan binatang yang namanya cinta ini, dan keragaman spesiesnya juga sangat bervariasi, tapi yang ingin kita bahas untuk saat ini adalah kisah kasih percintaan yang sering diidentiknya dengan kata cinta ini, cinta terhadap pasangan.
“Anugrah Terindah Yang Pernah Dimiliki”, itu kata Sheila on Seven. Tapi memang rasa ketertarikan terhadap lawan jenis ini merupakan anugrah yang sangat indah. Karena anugrah ini peradaban kita masih tetap terus ada dan semakin menyesakkan dunia ini, melibas ekosistem binatang purba yang katanya telah dulu ada dibandingkan peradaban kita. Ketertarikan terhadap lawan jenis yang aku angkat karena aku masih menghargai agama dan terutama sangat-sangat menghargai keberadaan lawan jenis yang memang diciptakan untuk menjadi pasangan. Maaf bagi anda yang tertarik sesama jenis, bukan maksud hamba membatasi eksplorasi tapi hamba ini punya idealis sendiri dan begitu juga yang mungkin ada dalam benak anda.
Atas nama cinta yang penuh masalah inilah peradaban manusia di bumi ini dimulai, bagaimana Adam dan Hawa bisa turun kedunia ini, kemudian terpisah dan menemukan cintanya kembali, terus menerus diwariskan sampai akhirnya adanya kita saat ini. Bagaimana kulturasi genetik telah ditentang atas nama cinta oleh anak-anak mereka, juga adalah atas nama cinta. Jika ditinjau ulang cinta memang tak jauh dari masalah, yang jadi pertanyaan kenapa cinta itu ada jikalau dekat sekali dengan masalah-masalah yang mudah sekali ditimbulkannya ?
Banyak orang-orang purba berkata, “awal mula masalah hidup di dunia ini tak jauh dari tiga inti masalah utama, yang pertama makan dan minum, yang kedua buang air, dan yang ketiga bercinta”. Cinta yang kita tilik ini tak lebih dari dua otak dan dua hati saja. Mungkin serasa dunia milik berdua inilah maka memang yang lain ngontrak dan pada akhirnya yang bercinta ini yang tidak perduli dengan efek domino yang dihasilkan dari percintaan mereka. Love is Blind, banyak para pujangga cinta sering berkata.
Cinta katanya adalah hak asasi manusia. Jikalau sebagai hak asasi manusia sudah barang tentu begitu bebasnya dan indahnya cinta yang terbebas dari belenggu aturan dunia. Tapi kalau kebebasan ini disalahgunakan siapa yang akan bertanggung jawab ? “Manusia berubah dalam hitungan detik”, yang bercinta adalah manusia, jika manusia berubah sifat dalam hitungan detik berarti cinta juga berubah dalam hitungan detik. Pantas saja salah seorang rekanan yang mungkin sedang jenuh, hari ini ia merasa bahagia dengan pasangannya, tetapi keesokan harinya ketika dia curhat lagi cerita yang bertolak belakang yang diungkapkannya. Jadi apakah cinta sejati itu ada ? Atau manusia sejati itu ada ?
Mungkin itu sebabnya tercipta lagu “cintaku terbagi dua”, tapi jikalau terbagi sembilan, sepuluh, seratus, bagaimana...maniak....atau sakit.
Kembali hidup adalah pilihan, mungkin jika orang yang cintanya sering terbagi berarti manusia itu kreatif, karena dia terus menerus bereksplorasi untuk menemukan inovasi-inovasi baru. Ini positif atau negatif tinggal anda yang memilih dan memutuskan jalan mana yang anda pilih ?
Masalah cinta yang katanya pada awal adalah masalah kita dengan pasangan ternyata ada yang berakhir dengan masalah umum. Ini berarti ternyata cinta bukanlah masalah pribadi, tertapi ternyata adalah kepentingan umum juga. Jikalau begitu ini hak asasi manusia atau hak sosial hubungan antar manusia ?
Keinginan adalah sebuah perwujudan hak manusia yang memiliki akal. Karena keinginan inilah maka banyak sekali kepentingan pribadi terhadap masalah-masalah disekitar kita. Dari masalah percintaan saja ternyata bisa menjadi masalah politik. Mahadaya cinta, banyak hal yang bisa dibelokkan arahnya oleh binatang yang satu ini. Bagaimana skandal beberapa pemimpin menjadi bumerang untuk image dirinya dimuka umum, tapi jikalau masalah skandal, ini cinta atau hawa nafsu ?
Dari skandal cinta ini pula orang yang awalnya tidak tahu menahu tiba-tiba diajak untuk ikut terlibat. Cinta banyak segi begitu menghebohkan dunia persilatan percaturan politik. Dari sebuah perwujudan masalah pribadi dan keluarga mejadi perwujudan masalah tatanan pemerintahan. Tuntutan kebijakan pemimpin untuk penyelesaian pun turut menjadi sebuah permainan yang entah banyak tujuan apa dari banyak kepala yang datang. Mereka yang bercinta pada awalnya tidak pernah berpikiran akan menjadi perbincangan banyak orang disekitar mereka, itu mungkin karena mereka tidak tahu orang-orang di sekitar mereka ternyata punya banyak pemikiran lain yang tidak pernah mereka bayangkan. Mungkin ternyata ada orang lain yang juga menaruh hati dengan pasangan mereka, ada juga yang sebenarnya benci dengan pasangan mereka, dan ternyata ketika masalah itu muncul ada juga yang kemudian punya kepentingan walaupun sebenarnya itu bukan ditujukan kepada mereka, karena ternyata ditujukan kepada orang lain yang punya kepentingan untuk menyelesaikan masalah mereka.
Jikalau sudah menjadi masalah khalayak ramai bagi orang yang dituntut kebijakannya paling tidak penyelesaian yang paling masuk akal adalah DAMAI. Tapi memang tinggal bagaimana cara penyampaiannya agar semua hati orang-orang beringas itu bisa luluh untuk menerima semuanya agar masalah itu bisa selesai. Damai untuk semua orang memang terkadang menjadi momok besar dalam hati orang yang punya kepentingan didalam kasus tersebut. Apalagi kedua belah pihak merasa sudah sama-sama dirugikan, “tidak hanya yang bercinta ternyata orang-orang terdekat dari mereka yang bercinta juga merasa telah banyak dirugikan”.
Yang lebih parah apabila sudah menginjak pada tindak anarkis. Yang pada awalnya mereka enak-enakan tidur ternyata sekarang jadi susah tidur, orang yang tak tersangkut paut pada awalnya juga ternyata menjadi ikut-ikutan susah tidur. Jikalau sudah anarkis dan akan dipidanakan semua yang terlibat lalu berkata jikalau dirinya dan tindakannyalah yang paling benar. Kasus pemukulan jelas secara hukum pidana Indonesia yang merupakan hasil turunan hukum jaman kolonial adalah salah. Tapi mereka berdalih hal itu terjadi karena yang bercinta itu telah melakukan hubungan terlarang. Jikalau seperti itu kenapa Indonesia tidak menganut hukum Islam saja, atau pindahkan saja mereka semua ke Nangroe Aceh Darussalam yang sudah menerapkan nilai-nilai Islam.
Entah kenapa tehnik penyelesaian let it flow dan biar waktu yang menyelesaikan ternyata yang lebih sering berperan dalam penyelesaian masalah. Aneh memang, di satu sisi jelas seolah-olah hal itu tak pernah terselesaikan, tapi ternyata permasalahan yang tadinya sangat bergejolak itu jadi reda dengan sendirinya. Mungkin karena banyak orang yang terlibat baik itu yang punya masalah sampai dengan tersangkut paut masalah tersebut karena sesuatu dan lain hal, sebagai manusia biasa dan yang manusiawi selalu menempatkan diri pada “safety corner”. Tidak dipungkiri banyak provokator selalu saja berada di sisi ini mulai dari awal ketika mereka menimbulkan provokasi mereka kesemua orang sampai dengan semua proses permasalahan tersebut, tidak pernah yang namanya provokator dengan gagah berani berada dibarisan paling depan. Jadi, apakah itu permasalahan atau hanya sekedar angin puting beliung yang numpang lewat tapi banyak membuat pusing orang-orang yang terlibas dan yang tak tahu-menahu ?
Cinta atau politik ? Berpolitik atau bercinta ? Anda yang punya kepentingan pasti tahu dari sudut pandang mana permasalahan itu dan apa tujuan permasalahannya.

Kepemimpinan Bagito


Banyak orang dan mungkin sebagian besar orang yang hidup di dunia yang fana ini ingin selalu berusaha agar hidupnya selalu berada dalam koridor tanpa masalah. Tapi apa mungkin kita menghindar dari masalah ? Bahkan mulai dari dilahirkan ke dunia ini kita semua serasa menolak untuk dilahirkan dengan menangis ketika menghirup udara dunia ini. Begitu banyak sekali masalah dan tantangan yang akan kita hadapi selama hidup ini. Dari pengalaman hidup, banyak sekali sifat hamba-hamba sahaya sang pencipta ini yang terkadang menjadi momok besar dalam perjalanan menyusuri sedikit waktu yang tersisa. Sering sekali doa sapu jagad dimohonkan, tetapi memang cobaan itu selalu saja datang. Tenang saja cobaan itu tidak akan lebih berat dari tingkat kemampuan kita semua, itulah yang sering dipikirkan olehku walaupun tidak dipungkiri sering sekali aku merasa lelah dan menyerah, ketika dalam kebuntuan berfikir.

Lari dari masalah kata sebagian besar orang yang dibilang orang besar dunia ini tidak akan menyelesaikan masalah, tapi entah kenapa perang gerilya sering sekali memenangkan pertempuran. Dilema, dan hanyalah dilema yang sering hidup dalam keseharian aktivitas kita. Mungkin positif ketika dilema itu datang, ketika kita berada dipersimpangan, hidup adalah pilihan. Eksplorasi pemecahan masalah dipersimpangan jalan menunjukkan kepada diri kita sendiri sampai dimanakah tingkatan kreatifitas pemikiran kita berada, ibarat icon iklan rokok Lucky Strike, “Think fast”. Kebanyakan masalah yang timbul itu selalu menuntut penyelesaian yang secepatnya, bahkan tidak jarang masalah “surat pegangan hidup” yang banyak dianggap hal sepele bagi penuntut menjadi hal yang sangat melelahkan bagi sang pengurus. Rocker juga manusia, kita semua dengan berbagai latar belakang kita adalah juga manusia, punya rasa punya hati, yang penuh dengan rasa lelah dan semua orang tahu kelelahan salah satu cikal bakal dari kekhilafan, jadi jangan samakan dengan pisau belati, itu kata group band seurius, sekarang bagaimana dengan pendapat anda yang merasa hidup ini ? Apakah anda ingin hidup lebih hidup ? Tanyakan saja caranya dengan L.A. Light, karena katanya bikin hidup lebih hidup.

Bicara tentang bikin hidup lebih hidup, banyak orang menginginkan suasana kerjanya lebih hidup, lebih cerah, lebih meriah, lebih, lebih dan lebih. Interaksi antar individu dalam aktivitas sehari-hari ada yang pandai bikin hidup tapi banyak juga yang belum apa-apa sudah menciptakan suasana ritual pemakaman. “Bawahan Atasan Giat Tertawain Orang”, sekilas terasa negatif pengertian ini tetapi dalam banyak hal jikalu kita mau mengkaji ulang dan hanya mengambil postifnya, banyak sekali pencerahan yang kita dapatkan. Tertawa, dalam kalangan kasta yang sama kita lebih gampang membuat orang lebih hidup, tetapi dalam kondisi perbedaan kasta yang amat mencolok, keadaan yang lebih mudah dibuat adalah suasana pemakaman.

Miss You Were Here, katanya Incubus, tidak banyak orang yang bisa membuat suasana jadi lebih hidup, diriku juga masih dalam proses pembelajaran untuk bisa sedemikian menariknya dalam berkomunikasi. Komunikasi yang efektif, banyak orang sering membicarakannya, barang langka apakah ini ? Dalam pemikiranku lebih kepada bagaimana semua opini kita bisa dengan mudah diterima dan dimengerti oleh musuh bicara kita, dan pada akhirnya feed back dengan mudah kita dapatkan. Kasta rendahan tentu sangat merindukan bisa bereksplorasi pemikiran dengan kasta petinggi. Dengan adanya fleksibilitas dari tipe-tipe orang idaman ini tentu akan sangat mudah sekali bermunculan ide gila dan pemikiran edan, yang tentu sangat berbeda sekali dengan ritual pemakaman yang tata caranya sudah sangat sedemikian kakunya dari jaman dahulu kala sampai dengan sekarang ketika aku masih hidup hanya itu-itu saja.

Seperti slogan majalah Opini, “iihh..papa nakal sukanya yang nakal-nakal”. Pemaksaan icon majalah ini sedemikian terlihatnya didalam iklan visualnya, positif, memang itulah nilai jualnya. Dari kenakalannya Isaac Newton ternyata sangatlah bermanfaat pada akhirnya bagi manusia didunia ini. Betapa tidak nakalnya dengan keisengannya bermain kawat filamen menjadikan dunia lebih terang. Ada celoteh, Tuhan adalah sumber cahaya kehidupan dunia, Isaac Newton adalah sumber kehidupan cahaya dunia. Jikalau tidak adanya jiwa nakal dalam diri manusia ini mungkin manusia dari dulu sampai sekarang masih hidup berburu, tanpa baju, dan berbulu, karena volume otak manusia dari jaman homo sapiens sampai dengan sekarang tetap sama.

Kasta brahma yang nakal dan penuh dengan segudang canda tawa mungkin akan lebih mudah merangkul kasta sudra, dan tidak bisa dipungkiri banyak juga ide besar, orang besar, pada awal berasal dari kasta sudra. Jikalau sang brahma jeli, tentu saja beliau dapat menyerap banyak masukan yang bisa jadi sangat berguna bagi kariernya dihadapan-Nya. Ketakutan akan kehilangan wibawa rasanya sangatlah picik jika berpikiran jika terlalu dekat dengan kasta rendahan, karena kewibawaan muncul dari penilaian dalam diri orang lain, tidak bisa dipaksakan, dan jika dipaksakan yang terlihat hanyalah kebodohan, kebodohan dan kebodohan. Pada akhirnya tertawaanlah feed back yang didapat. Pernah sebuah cerita datang, entah itu adalah keluhan, pengalaman, ataupun sindiran bagi yang merasa, “adalah si Fulis yang merasa sedang duduk di tahta Brahma, dihadapan para Brahma lainnya dia senang sekali memarahi para Sudrinya untuk menunjukkan kewibawaannya. Tidak perduli para sudri itu memang salah ataupun tidak, dan di balikpapan dia memberikan sedekah kepada Sudri yang dimarahinya atas marahannya tadi. Disatu sisi banyak para sudri sengaja membuat kesalahan untuk mengambil keuntungan pribadi, tapi dari semua para Sudri itu ada yang idealis. Dia merasa terhina sekali dimarahi untuk membetulkan pekerjaannya yang sudah betul, setelah tamu brahma itu pulang disodorkannya pekerjaannya yang sama sekali tidak dirubahnya itu, hal aneh yang terjadi, langsung disetujui. Sudri yang idealis inipun berkata, “pada awalnya, walaupun sifat Fulis ini memang begitu, Sudri ini masih memiliki rasa hormat, tapi karena sakit hati yang mendalam karena harga dirinya hanya dihargai dengan materi senilai air hitam, rasa hormat Sudri idealis ini tak lebih pada hormatnya kepada Sudri dari kasta yang amat dekil”.

“Gimanalah bang.....” jikalau kita terlalu membingkai kepemimpinan dalam sesuatu yang diagung-agungkan. Makanya kenapa mau NKRI dibentuk, coba masih terpecah-pecah dalam bentuk kerajaan-kerajaan kecil mungkin orang yang suka diagung-agungkan cocok duduk ditahta tersebut. Ibarat abdi dalem di kraton Kasultanan Jogjakarta kata dr. Sandy, pemimpin dan orang-orang yang terpaut dalam organisasi kepemimpinan negeri ini sebenarnya adalah seperti itu. Ternyata Kasta Brahma negeri ini tak lain harusnya merupakan kasta sudra, tidak seperti fenomena yang ada sekarang ini. Jadi memang sang Brahma-brahma ini harus sadar diri dulu, siapa dia, darimana dia, dan apa gunanya dia ada.

Tempat itu Setapuk Besar


Suatu daerah di ujung Singkawang Utara, yang untuk ukuran orang baru di Singkawang memang tempat ini terasa amatlah jauh. Dengan sebuah system tata pemerintahan baru di wilayah Singkawang yang terwujud sebuah kota daerah yang dulunya desa ini dipaksa untuk berubah menjadi sebuah kawasan urban. Positif, tapi entah kenapa banyak masyarakat yang agak menentang sebuah perubahan, harusnya jikalau kita menyebut perubahan yang lebih baik adalah perubahan ke tingkat yang lebih tinggi.


Di satu sisi masyarakat di Setapuk Besar ini sudah condong berorientasi pada kegilaan orang-orang kota, dengan berani mencoba untuk bergerak untuk menuntut pelayanan yang maksimal. Dilema, ketika orang yang “baru” ingin ikut terjun dalam sebuah kancah pembangunan kota Singkawang, malah terjadi banyak sekali pertentangan-pertentangan ide, baik itu yang memang benar-benar ide yang sama-sama positif maupun ide yang malah menjerumuskan kembali masyarakat ke dalam jurang yang pernah mereka masuki dimasa yang lalu.


Perubahan sistem pemerintahan dari desa menjadi kelurahan, ternyata membawa dampak sebuah “shock therapy” bagi para pemimpin-pemimpin masa lalu. Mereka seolah kehilangan power mereka untuk memberikan kontribusi pemikirannya kepada daerahnya. Karena mereka kebanyakan tidak memakai baju yang sama dengan sistem yang baru ini. Negatif, apakah harus, ketika kita ingin membentuk sebuah perubahan kita harus berada di atas. Goncangan-goncangan dari bawahpun mungkin akan lebih terasa ketika berada dalam tatanan pelaksanaan bukan hanya dalam tatanan konsep saja.


Kembali kepada kata Setapuk Besar, sesuai dengan namanya saja harusnya daerah ini mempunyai wilayah yang sangat luas. Dan memang terbukti ketika masuk ke dalamnya, daerah ini memang sangatlah luas, 28 buah blok kemasyarakatan ada di sini. Sebagai sebuah masyarakat yang dulunya berbentuk desa, pada umumnya bisa ditebak sektor yang digarap oleh mereka. Pertanian, yah memang sebagian besar mereka mengandalkan tanah tuhan untuk menghidupi organisasi kecilnya. Komoditi yang selalu disebut-sebut sebagai asal Tebas, ternyata sangat banyak juga berada di daerah ini, tetapi lucunya sesampainya di pasar tetap saja tidak berani menunjukkan bahwa tidak perlu jauh-jauh untuk mencari jeruk, cukup di Setapuk jeruk yang rasanya manis juga ada. Tapi masih untung, ternyata rambutan di Singkawang masih dilambangkan dengan Setapuk. Kenapa tidak berani menunjukkan “icon” jati diri sebuah barang, jeruk di pontianak selalu dibilang berasal dari Tebas, jeruk di luar Kalimantan Barat selalu di bilang jeruk Pontianak, padahal mana ada di kota Pontianak kebun jeruk.


Perlu kita anggap ini sebagai sebuah pembodohan diri, kemana keberanian kita untuk berinovasi, tapi memang bangsa Indonesia adalah pencontoh yang ulung. Jikalau mau mencari peniru unggul disinilah tempatnya. Mulai dari peniruan produk, sistem sampai pada tatanan konsep dan ide. Tulisan Gede Prama pernah meninju mukaku karena ternyata sama saja, inovasiku dalam dunia yang digeluti olehku banyak sekali pada akhirnya dibelokkan oleh kekuatan-kekuatan pengambil keputusan. Idealisme misi dan icon diriku menjadi tersimpan dalam lemari besi oleh karena melayani para pelanggan yang terlalu kental akan “maunya saya begini”, dan ketika aku memunculkan sebuah ide baru jawabannya “kok begitu” karena yang namanya ide baru ya memang tidak umum, kalo umum itu namanya ide usang dan kembalilah membantu mempertahankan citra bangsa ini.


Sebagian lagi memanfaatkan posisi wilayah yang ternyata mencium bibir pantai, pelestari-pelestari kisah nenek moyang ini tetap menjaga warisan budaya pelaut ulung. Walaupun masih kalah jauh dari para nelayan-nelayan Thailand yang ternyata mampu berlayar untuk menangkap hasil laut. Mungkin karena itulah bangsa kita ini disebut sebagai pelaut ulung, dengan teknologi yang sangat tepat guna, yang ketika terkena angin kencang sedikit lebih baik tidur di rumah, sampai dengan ahli nujum yang bisa memprediksikan dimana para penghuni-penghuni laut ini berkumpul.


Bukan salah siapa-siapa, memang begitulah Indonesia dengan ke-Bhineka Tunggal Ika-nya. Tuntutan-tuntutan, dan hanya tuntutan kepedulian dari pemimpin selalu digembar-gemborkan mereka, tolong peduli, tolong bantu, hal-hal seperti ini yang mematikan inovasi untuk menciptakan sebuah perubahan yang lebih baik. Anak mami, memang hal ini tidak bisa terlepas dari diri semua orang termasuk yang menulis tulisan aneh ini, tapi apakah salah kalau kita mati-matian menciptakan hal yang kecil saja, tetapi banyak, untuk menjadi cikal bakal perubahan. Aku juga sempat marah dalam diri ketika dikritik seorang teman karena terlalu banyak mempelajari software, “kamu ini hangat-hangat tahi ayam, tidak ada yang dikonsentrasikan semua mau dipelajari tapi tidak ada yang sampai maksimal”, tapi jawaban ketus dalam diri “ya biarin aja memang suka mempelajari hal-hal yang baru kok, karena misinya jika sudah tau sedikitkan, jadinya tidak mudah dibodoh-bodohi orang”. Itu kalau diriku, jikalau anda masih mengikuti aku ataupun temanku, sama saja anda mematikan jiwa inovasi anda. Hal yang lumayan dari bangsa ini yaitu akhirnya salah satu “ahli nujum” bangsa ini bisa hidup di Jerman dengan indahnya, sempat merasa kesal juga dengan beliau kenapa lari dari lingkungan orang-orang yang “kepintaran” ini, kenapa tidak membangunkan orang-orang seperti diriku di kampung halaman yang dalam sehari semalam isinya hanya tidur, tidur dan tidur lagi.


Kembali kepada tanah Setapuk Besar, flash back sedikit ketika pertama menginjakkan kaki ke wilayah ini, sedikit terkejut saya ketika memasuki kantor kelurahannya saja. Penampakan luarnya sih lumayan tetapi ketika melewati pintu utama, yang menjadi pertanyaan saya kenapa orang-orang sebelum diriku bisa bekerja dengan baik, dengan kondisi yang sangat-sangat memprihatinkan. Apakah memang begini citra yang harus muncul pada bangunan-bangunan pemerintahan ? Apakah memang sengaja dibentuk untuk menutupi mata masyarakat agar tidak berprasangka buruk terhadap pemerintahan ? Kenapa sih tidak ada usaha perawatan yang lebih baik ? Kenapa barang bagus yang diciptakan hanya bertahan tahun hitungan jempol ?


Aku tidak menjebak anda dalam idealisme institusi, tetapi lebih kepada memunculkan jiwa seni dan jiwa keindahan untuk kenyamanan psikologis semua orang. Karena mayoritas di Setapuk Besar adalah orang beragama, bukankah di dalam ajaran agama diajarkan tentang rasa keindahan dan kebersihan. Kepedulian yang digugah disini, jikalau berfikiran “ah biarin aja, biar cepat diganti dengan yang baru, karena kalau belum rusak tidak akan diperhatikan oleh para pemimpin”. Inilah dilema yang terjadi pada property milik pemerintahan, tidak ada rasa tanggung jawab karena tidak adanya sangsi atau aturan atau imbas balik yang bisa menyadarkan pribadi-pribadi ini. Positif juga metode kantor-kantor swasta yang berlomba-lomba membuat tempat usaha menjadi lebih representatif, tapi sebelumnya yang menjadi pertanyaan dalam diri adalah, Apakah kita orang pemerintahan mau begitu juga ? Karena bagus tidaknya tempat kerja toh gaji ya begitu-begitu juga. Kalau anda berpendapat begini, dirasa perlu pada penerimaan pegawai selanjutnya dimasukkan pada point yang pertama item “bersedia ditempatkan dimana saja”.


Daerah ini masih sangat kaya dengan hasil alamnya, bahan-bahan yang murah malah bahkan mungkin tidak perlu membayar terdapat di sini. Yang jadi pertanyaan adalah, apakah manusia masih menganggap bahan yang bagus itu adalah bahan yang mahal, yang umum dipakai orang, yang gampang didapati di pasaran ? Kenapa tidak mau sedikit menyiasati dari kesulitan materil untuk mendapatkan bahan-bahan seperti pertanyaan sebelumnya, dengan memandang, apa sih yang kita punya ?


Kemauan, mungkin hanya kemauan untuk berkreasi saja dan bisa jadi mungkin sedikit izin, dan kembali izin untuk bergerak dari yang kuasa yang menentukan. Apakah perasaan tabu untuk berkreasi tanpa izin yang kuasa itu akan terus kita bina dalam sanubari kita ? Dan mungkin memang harusnya yang kuasa itu haruslah juga yang maha melihat lagi maha mendengar, maha pemurah dan maha penyayang, maha adil dan maha bijaksana, dan pada akhirnya maha dari semua maha.